EFEK SAMPING POSITIF BEKAM Klinik Tulus Sehati
19 August 2019
Show all

Mall praktek karena kurang berhati-hati dalam memilih terapis bekam

photo by : MEDIALOKAL.CO

Di pinggir-pinggir jalan atau di emperan masjid, biasanya ditemui orang yang menawarkan praktek bekam. Dengan peralatan seadanya, darah pasien yang akan disedot pada beberapa titik, umumnya di batang leher belakang atau di punggung, lalu dibuang. Meski ada yang tertarik dibekam, praktek pengobatan yang terkesan dilakukan serampangan ini justru sering memunculkan sejumlah keraguan, mulai dari kebersihan alat hingga kompetensi pelaku pembekaman.

Baca juga : EFEK SAMPING POSITIF BEKAM Klinik Tulus Sehati

Bekam adalah praktek pengobatan yang dilakukan dengan cara membuang darah yang menyumbat pembuluh-pembuluh darah. Sumbatan pembuluh darah ini paling besar terjadi pada kapiler darah. Ini terjadi karena kapiler adalah pembuluh darah dengan diameter paling kecil, yaitu 0,0009 sentimeter, jauh lebih kecil dibandingkan pembuluh darah vena, arteri besar, maupun aorta. Di sisi lain, diameter sel darah merah ternyata jauh lebih besar dibanding kapiler darah, yaitu sekitar 7 mikronmeter.

“Meski mempunyai diameter yang lebih besar, sel darah merah mempunyai daya elastisitas yang tinggi. Ini yang memungkinkan sel darah merah bisa melewati kapiler darah,” daya elastisitas sel darah merah itu sangat bergantung pada usia darah. Usia darah adalah 120 hari. Semakin tua usia darah, daya elastisitasnya semakin rendah. Darah tua inilah yang paling sering membuat penyumbatan di pembuluh darah. “Itulah perlunya bekam.” Penyumbatan darah biasa terjadi di daerah-daerah yang kurang bergerak, seperti leher belakang, bahu, punggung, maupun pinggang.

Selain menghilangkan sumbatan di pembuluh darah, manfaat lain yang diperoleh dengan bekam antara lain mencegah kekakuan pembuluh darah, meningkatkan penyampaian zat makanan dan oksigen ke semua sel tubuh, mengurangi sisa produk metabolisme tubuh, mengeluarkan racun, merangsang regenerasi sel-sel darah merah baru, merangsang sistem kekebalan tubuh, serta mengurangi beban kerja limpa. “Karena sel darah tua harus dipecah di limpa. Dengan dibuang, otomatis kerja limpa jadi lebih ringan”.

Indikasi bekam dilakukan untuk orang yang punya darah tinggi, gangguan kolesterol, kekakuan pembuluh darah, bahkan orang yang punya penyakit jantung. Namun bekam juga dilakukan untuk pemeliharaan kesehatan, dengan dilakukan sebulan sekali. Dalam pengambilannya, darah yang dikeluarkan tidak boleh lebih dari 125 cc (kira-kira setengah gelas air minum mineral). Bila diambil melebihi jumlah itu, dikhawatirkan bisa timbulkan syok.

Namun, ada sejumlah kondisi yang membuat orang sebaiknya tidak melakukan bekam. Kondisi yang disebut sebagai kontraindikasi tersebut, antara lain orang yang mengalami anemia, kulit keriput, pasien yang mengkonsumsi obat pengencer darah, penyakit kulit kronis, diabetes dengan gula darah tinggi, hipotensi, kelainan darah, bengkak, kelainan pembuluh darah, trombosit rendah, serta hipertensi maligna (di atas 190/110 mmHg).

“Itulah sebabnya bekam harus dilakukan dengan memperhatikan aspek medis. Bahkan sebelum bekam harusnya darah ditensi dulu. Praktek bekam di pinggir jalan tidak lakukan itu.”

Kesalahan Hijamah (Bekam)

 

Kesalahan dalam hijamah bisa disebabkan karena minimnya pengetahuan tentang anatomi  fisiologis tubuh, keterbatasan ilmu tentang penyakit serta cara kerja dan mekanisme hijamah. Hijamah sendiri merupakan salahsatu tindakan medis (bedah minor) oleh karenanya maka proses hijamah haruslah mengedepankan standarisasi medis. Contoh kesalahan hijamah antara lain :

  1. Persiapan pasien yang kurang.Sebelum dilakukan hijamah seorang penghijamah harus memeriksa kondisi umum dan penyakit yang diderita pasien. Pemeriksaan tekanan darah (tensi) merupakan pemeriksaan minimal yang wajib dilakukan. Kesalahan pada poin ini bisa membahayakan pasien terutama jika kondisinya sedang drop.

Mengabaikan masalah riwayat penyakit yang diderita pasien seperti pada penderita diabetes, hepatitis, AIDS, dll  bisa menyebabkan risiko tertularnya penyakit pada pasien dan penghijamah.

  1. Melakukan hijamah di area terbuka diluar ruangan atau terlalu dingin. Dikhawatirkan luka sayatan hijamah dapat terkena debu/kotoran yang berterbangan.Selain itu juga tidak disarankan melakukan hijamah di tempat dengan sirkulasi udara yang kurang/pengap. Jangan menyalakan kipas angin/blower tepat diatas pasien yang sedang dihijamah.
  2. Mengabaikan sterilitas.Banyak penghijamah hanya mengandalkan proses sterilisasi kop dan alat hijamah pada detergen, pemutih, rebusan air  atau alkohol. Tidak dimilikinya alat sterilisator standar menyebabkan resiko tinggi terkena infeksi kuman selama hijamah.
  3. Peralatan ala kadarnya.Dalam praktek hijamah, banyak di antara para ahli hijamah hanya menggunakan alat-alat sekedarnya tanpa memperhatikan faktor kebersihan alat dan lingkungan, sterilisasi dan higenisnya, seperti penggunaan tisu untuk membersihkan darah, apalagi tisu gulung untuk toilet. Akibatnya muncul tanggapan negatif terhadap terapan hijamah secara umum. Setiap pasien dengan riwayat sakit hepatitis, narkoba, dan HIV-AIDS (ODA) harus memiliki peralatan bekam sendiri yang dipisahkan dengan pasien yang lain.
  4. Menggunakan silet atau jarum.Kedua alat tersebut samasekali bukan merupakan peralatan medis standar yang dirancang untuk melakukan tindakan medis hijamah. Luka yang dihasilkan sangat berpotensi infeksi dan terkontaminasi bahan-bahan yang terkandung pada permukaan logam silet dan jarum.

 

  1. Kesalahan dalam menentukan titik hijamah. Selain tidak efektif, keterbatasan pengetahuan mengenai lokasi titik hijamah yang tepat akan mempengaruhi hasil hijamah secara signifikan. Beberapa penghijamah pemula sering hanya melakukan hijamah terbatas pada titik hijamah itu-itu saja, padahal titik hijamah telah banyak berkembang.
  2. Mitos “semakin banyak titik hijamah maka semakin cepat sembuh”.Terlalu banyak titik pada saat hijamah tidaklah berarti menjadikan hijamah semakin efektif namun yang benar adalah pemilihan titik yang tepat adalah kunci tercapainya tujuan hijamah.

 

  1. Terlalu lama menghijamah pada satu titik.Penyedotan kop yang melebihi 20 menit bisa menimbulkan efek samping keluarnya bulla (kantong cairan bening seperti cacar). Hal ini bisa menyebabkan keluhan perih dan beresiko infeksi.

 

  1. Melakukan penyayatan luka yang terlalu dalam.Hal ini selain memperlambat penyembuhan luka juga menimbulkan resiko mengenai pembuluh darah besar sehingga bisa timbul perdarahan.
  2. Harus puasa dulu sebelum hijamah.Pada pasien tertentu dimana kondisi tubuhnya sedang drop maka puasa bisa membahayakan pasien. Sebaiknya makanlah 2jam sebelum hijamah, dalam tempo waktu tersebut diharapkan proses pencernaan makanan sebagian besar telah selesai dan bisa memperkecil resiko “pingsan” akibat hijamah.

 

 

Contoh kasus malpraktik bekam.

Li Lin, asal Chengdu, Tiongkok, melakukan pengobatan lantaran bahunya terasa kaku. Ia pun memilih bekam. Usai terapi, bahunya pun terasa lebih baik. Bekam adalah terapi yang menggunakan cangkir kaca atau fiber yang dipanaskan dan diletakkan pada kulit untuk dihisap dan melancarkan peredaran darah. Dan ia pun menjalani kegiatannya itu setiap hari di tempat yang sama selama sebulan. Namun ia mulai merasakan luka yang besar di punggungnya. “Petugas menyarankan saya untuk tetap bekam selama satu bulan untuk menyembuhkan bahu kaku saya,” ujarnya.

Li menambahkan selama 10 hari terakhir, punggungnya melepuh dan membentuk lubang dari lokasi cangkir yang dipakai. Alih-alih menghentikan pengobatan, ia meminta istrinya untuk membersihkan lecetnya sebelum menggosok punggung dengan minyak. Pada 20 Juni, Li pergi untuk kembali bekam. Selama perjalanan pulang, ia merasakan badannya tidak enak dan mengalami demam tinggi. Keluarga Li pun langsung membawanya ke rumah sakit. Dokter bedah Xie Liang mengatakan bahwa Li dikirim ke ruang gawat darurat karena demam 37,7 derajat dan punggungnya benar-benar bengkak. Pada pemeriksaan, ditemukan bahwa ia memiliki infeksi bakteri. Dokter menambahkan kalau Li beruntung datang ke rumah sakit ketika semakin membengkak. Kini kondisi Li mulai membaik dan nyawanya pun tak terancam.

Admin
Admin
marisembuh.com

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *