Berbagi pengalaman tentang merawat orang tua. Selama kurang lebih 2 bulan saya mendampingi perawatan lansia yang bed rest dengan kemampuan fungsional sedang. Beliau mengalami pengeroposan tulang di kedua kakinya. Kemampuan jalan kurang, hanya bisa berjalan dengan bantuan kruk dalam jarak 5-7 meter. Kesehatan umunya baik, sejak pertemuan pertama sampai 2 bulan terakhir tekanan darahnya ada pada kisaran 110/70. Turgor kulit bagus, dan tidak ada tanda adanya penyakit kronis.

Ketika pertama kali saya bertemu dengan beliau, saya lihat keadaan memang tidak terlalu baik. Wajahnya tampak tampak melas, tua, dan ada keputusasan. Kondisi jiwa yang tidak bergairah tergambar dari badan dan gestur yang tidak bertenaga cenderung ingin diam dan tidur terus. Keluarga menyampaikan bahwa beliau sering terlihat murung, sedih, dan seperti menaggung masalah yang berat.

Kala itu beliau mendapatkan resep dari doker, diantaranya; curcuma, meloxicam, fit bon, cal, dan imunos plus. Resep standar untuk menjaga kesehatan geriatri (lansia). Karena bed rest beliau menggunakan pempers, kelembaban kulit yang buruk dan tekanan terus menerus membuat luka di bagian selakangan kiri dan kanan.

Pengkajian masalah selesai, kami bertemu dengan keluarga untuk memyampaikan hasil pengkajian dan rencana perawatan. Ketika bertemu dengan keluarga saya mulai dengan kalimat, “Bapak harus diopeni (dirawat), sayang kalau tidak diopeni (dirawat). Semua fungsi tubuhnya masih baik”. Kami sampaikan harus dirawat, bukan karena saya bekerja di agensi perawatan khusus geriatri. Saya sampaikan harus dirawat, adalah bentuk motivasi agar keluarga memperhatikan beliau. Beliau masih baik semunya, kemampuan melihat masih bagus, kemampuan mendegar masih bagus, kemampuan kognitif dan sosial masih bagus. Sayang kalau kemapuan kemampuan tersebut tidak dirawat, diabaikan dengan cara hanya dikurung di dalam kamar. Saya yakin, tidak sampai setengah tahun pasti kondisnya kesehatan akan sangat menurun.

Manusia itu tumbuh, berkembang, dan terus berasa. Tumbuh, kembang, dan rasa ini erat kaitanya dengan stimulus lingkungan. Kalau hanya dikurung di dalam kamar, meski ada ac, ada makanan lengkap, tanpa ada stimulus, diantaranya berupa interaksi, kasih sayang, sentuhan, pasti akan memburuk, melemah, dan rasa kemanusiaanya perlahan disfungsi hingga akan berdampak pada buruknya kondisi seseorang.

Saya ingatkan keluarga tersebut untuk selalu memberi perhatian ke beliau, meskipun dengan cara yang sederhana. Saya tidak mengatakan harus ditunggu terus, tidak!, beri perhatian yang wajar saja, dan tidak berlebihan. Saya tahu semua anggota keluarga memiliki kewajiban dan aktifitas masing masing. Mohon perhatian, “memberikan perhatian jangan selalu dibenturkan dengan kesibukan. Ini masalah rasa, tinggal dibahasakan saja rasa tersebut dengan berbagai sarana teknis yang sesuai kemampuan.” Makan bisa dibeli di warung makan, vitamin dan obat bisa dibeli di apotek, lalu kasih sayang, motivasi, dukungan, dan penghargaan, mau Anda beli dimana kiranya?.

Setelah perawatan saya jalan beberapa minggu, kami puas dan senang. Kondisi beliau mulai membaik, semangat, dan memiliki harapan kembali untuk berjuang melawan kelemahanya. Beliau sekarang sudah tidak pakai pempres, tingkat kemandirian meningkat, dan rasa “hidup” bisa dirasakan oleh orang disekelilingnya. Bahkan pada kesempatan tertentu beliau menyampaikan, “kondisi saya sudah sehat, hanya kaki saya yang mengalami kelemahan”. Keluarga beliau juga merasakan adanya perkembangan dan perbaikan.

Jujur saya senang dan puas. Karena merawat pasien itu seperti bercocok tanam, ketika melihat pasien tumbuh, berkembang, dan membaik, rasanya seakan akan seperti petani yang akan segera panen. Senang dan bangga.

Ns. Tulus Prasetyo

Yogyakarta, 21 Juni 2016

Related Post

True Story: Bekerjasama Merawat Orangtua
Tag pada:                    

5 gagasan untuk “True Story: Bekerjasama Merawat Orangtua

    • 13 Agustus 2016 pukul 12:52
      Permalink

      Jazakallahu khairan atas kunjunganya dr. wiwid santiko. aamiin. Diluangkan berkumjung di doktermuslim.com insya Allah.

      Balas
  • 25 Maret 2017 pukul 08:57
    Permalink

    Kaifa halukum yaa akhi, lama tak ada kabar,,,
    bagaimana prinsip perawatan lansia selama pengalaman antum,

    Balas
    • 7 April 2017 pukul 16:03
      Permalink

      alhamdulillah…. memahami, sabar, dan terus belajar bijak 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *