Ketika kita mendengar doa untuk orang sakit tanpa melibatkan keimanan, kita akan merasa ada yang ganjil dengan lafadz “Syaafaka Allah” (Semoga Allah lekas menyembuhkanmu). Seolah semua prosedur yang kita tempuh saat ini hanya sebatas sarana “alat” untuk menunaikan kewajiban beramal seorang hamba. Tapi itulah iman, menuntut kita mempercayai dan membenarkan. Semakin dalam keyakinan kita, akan semakin sadar bahwa Allah bukan sebab dan Allah bukan akibat. Allah adalah pemilik sebab dan akibat. Kalau Allah mau, orang sehat bisa langsung sakit dan orang sakit bisa langsung sembuh. Karenya Allah Sang Raja Yang Maha Menentukan.

Semua ahli kesehatan sepakat bahwa mereka tidak bisa menyembuhkan, karena mereka bukanlah sang penyembuh. Allah Yang Maha Menyembuhkan. Hanya Allah yang patut menyadang gelar Sang Penyembuh. Obat – obat yang diracik hanya hasil dari penelitian – penelitan yang mungkin bisa benar dan sangat mungkin bisa salah. Keyakinan saat minum obat harus disertai dengan keyakinan pada Sang Penyembuh, keyakinan pada Sang Penyembuh harus mengalahkan keyakinan pada obat, karena obat hanya perantara. Jika Allah berkendak, Dia bisa menjadikan apapun menjadi perantara kesembuhan. “Berobat dan sandarkan diri kepada Sang Penyembuh, semoga Allah menyembuhkan.”

Kesembuhan, 1 % Ilmiah, 99% Ilahiyah (Kuasa Allah)
Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *