Perawat Lansia. Tulisan adalah cerita pengalaman ners Amalia Senja, M.Kep, dalam melakukan kunjungan di rumah saat pemberian jasa perawatan dan konsultasi lansia di rumah. Mari disimak cerita beliau saat membuat rencanan perawatan pada pasien lansia dengan demensia.

perawat lansia
perawat lansia

Saat ini, saya sedang merawat seorang klien Tn. X berusia 75 tahun. Visite pertama keluarga menginginkan sebatas konsultasi, maka saya hendak datang untuk anamnesa dan konseling keluarga. Sesampai lokasi saya sudah ditunggu keluarga, duduk dan sembari mengobrol santai karena klien memang masih istirahat di kamar. Sejauh  pembicaraan yang dilakukan, saya mengetahui kondisi klien : Disorientasi, kurang kontrol dalam berkemih dan BAB, sering keluyuran, sudah tidak mengenal orang, kesulitan berbicara, tidak dapat mengendalikan amarah.

Saya perkirakan Demensia Vaskuler, ada riwayat stroke. Sementara bisa stage II maka kita perlu bantu untuk tidak memperburuk kondisi atau perlambatan stagenya.

Iya mbak dokter juga bilang begitu juga sudah di MRI.

Sembari klien makan dengan mandiiri, saya keluarkan speakers dan memutarkan terapi audio.

Terapi audio gelombang otak

Audio gelombang otak bisa berbentuk musik atau lagu yang mempunyai karakter untuk menenangkan serta dapat meningkatkan kecerdasan, dapat meningkatkan konsentrasi serta lebih kreatif untuk berfikir dan mengaktifkan listrik di dalam darah yang menuju jaringan otak.

Tetap ajak bersosialisasi. Sejauh ini bapak tetap jalan keluar rumah?

Iya masih.

Beliau masih mampu makan dengan tangan sendiri, maka lanjutkan seperti itu.

Klien ODD juga harus tetap dilibatkan dengan berbagai aktivitas sesuai kemampuannya. Adapun gangguan perilaku ODD dapat diatasi dengan berbagai teknik dan terapi seperti validasi, yaitu tidak membantah perkataan ODD dan memahami emosi yang sedang dirasakannya.

Dulu beliau sering mengaji? Ada surah dalam Al-Qur’an yang sering dibaca?

Iya mbak, Surah Ar—Rahman.

Baik Ibu saya minta tolong dipinjami Al- Qur’an.

Saya lantunkan Surah Ar-Rahman didepan beliau. Beliau duduk tenang mmperhatikan saya. Saya lambatkan alunan ayat. Membaca Al- Fatihah, saya bimbing beliau. Beliau bisa mengikuti basmallah saya. Beliau tidak menuju kamar atau berjalan kemanapun tetap dalam kondisi duduk meski saya paham pendengaran beliau berkurang, maka saya perjelas lantunan saya.

Selepas magrib, saya masih melanjutkan terapi.

Ibu, keluarga pernah mengajarkan Brain Gym atau senam otak?

Oh iya mbak, dulu saya pernah mengajari bapak, tapi karena bapak tidak bisa melakukannya maka saya lakukan sendiri.

Oh saya koreksi ibu, brain gym untuk koordinasi motorik klien, jadi sebaiknya kalaupun klien tidak bisa melakukannya wajar karena mengalami hambatan, maka pegang tangan beliau dan lakukan gerakan dari gerakan yang memerlukan koordinasi motorik sederhana karena kalau yang kompleks dan rumit mungkin beliau belum mampu.

Saya perlihatkan caranya.

Oh begitu ya mbak?

Betul semoga mudah untuk dipahami.

Kondisi lingkungan saya perhatikan sudah banyak dipasang penghalang, bisa ibu tetapi sisakan ruang atau satu dua jalur akses untuk bapak. Kalau tidak akibatnya bapak kebinggungan, ya seperti kita kalau terkurung jadi binggung.

Beliau ada lagu kesukaan? Kalau ada silahkan keluarga menulis liriknya dan menyanyikan untuk beliau. Itu akan membantu beliau dalam mengingat dan membuat perasaan senang.

3 jam saya melakukan visite, harapan keluarga hanya konseling tetapi tidak salah bahkan kalau kita sudah melakukan implementasi sejauh kita sudah paham masalah dan tatalaksana.

Bapak mungkin mengalami perasaan kesepian karena ditinggalkan teman teman sejawatnya. Teman – temannya sudah meninggal. Saya mampu melakukan sugesti akan tetapi disini ada hambatan pendengaran.

Keluarga saya tinggalkan dalam kondisi terpahamkan tentang segala masalah yang ada dengan klien. Saya masih diminta plan untuk memberikan visite perawatn setiap minggu. Memang disanapun sudah ada perawat harian tetapi setiap sore pulang.

Ada mbak tetapi hanya membantu ADL bapak, belum fokus keperawatan masalahnya.

Ya, saya kembalikan kepada keluarga. Semoga waktu silaturahmi yang hanya sebentar ini dapat diambil kemanfaatannya untuk kita semua. Aamiin

 

Layanan Perawatan dan Terapi Kesembuhan

Mari Sembuh

 0895-4104-17530 / 0858-6713-0908 

Cerita Kunjungan Perawat Lansia dengan Demensia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *