Pelabelan atas sesuatu memilki efek yang kurang baik. Karena biasanya label yang diberikan pada susuatu akan membekas dan terus membekas mempengarui semua sisi sesuatu sesuai pelabelan yang diberikan.  Terlebih jika pelabelan tersebut diberikan pada manusia -sesuatu yang hidup, tumbuh, dan berperasaan- pelabelan akan berdampak lebih kuat, membatasi, mengukung dan bahkan menekan.

                Salah satu kasus pelabelan adalah penyebutan LANSIA (manusia lanjut usia) untuk orang berusia lebih dari 45 tahun. Beberapa artikel menjelaskan ketidak setujuan atas penyebutan ini. Karena menyebut orang dengan sebutan lansia biasanya juga diikuti kriteria beruntun tentang lansia. Lansia itu lemah, lansia itu penuh ketergantungan, lansia minim penghasilan, lansia penyakitan, lansia tidak produktif, dll. Meski juga ada beberapa kriteria postif yang coba dibangun, tapi nyatanya krteria negatif tentang lansia lebih banyak daripada kriteria positif tentang lansia.

Para pakar kesehatan, keperawatan, dan kedokteran lebih senang mengistilahkan lansia dengan sebutan sebutan lain yang bisa memberikan penghormatan dan penghargaan. Ada yang mengistilahkan tuan besar, senior, sang guru, dll. Mereka beranggapan bahwa sebutan tersebut bisa berefek positif dan lebih menghormati dari pada kata lansia.

Secara pribadi, saya juga memiliki pengalaman atas hal ini. Setelah saya selesai mengisi suatu kegiatan, saya bertemu dengan bapak bapak yang kira kira berumur 62 tahunan. Beliau menghampiri saya kemudai cerita tentang banyak hal, salah satunya program kegiatan lansia di desa tempat dia tinggal.   Dia mengatakan, “Saya ndak mau bergabung dengan komunitas lansia dan mengikuti programnya. Saya bukan lansia, saya masih kuat dan akan terus berusaha berjuang untuk mempertahankan kesehatan saya. Bagi saya penyebutan lansia bisa membuat saya lemah.” Saya tertegun, dan mengingat kembali tentang teori pelabelan dan pengarugnya padapsikologi manusia.

Baca Yang Ini  Layanan Perawat Lansia Di Jogja

Pengetahuan dan pengalaman tersebut membuat saya semakin berhati-hati menyebutkan kata lansia. Saya selalu mencoba tidak mengatakan kata lansia saat merawat orang orang yang berusia diatas 45 tahun. Saya lebih suka menyebutnya SENIOR. Senior dalam kehidupan. Saya rasa dengan begitu akan membuat mereka lebih dihargai dan dihormati.

Silahkan, sebut mereka dengan apapun yang ada suka. Asalkan panggilan itu menunjukan penghormatan dan penghargaan. Yakinlah, membuat mereka merasa terhormat dan berharga adalah bagian usaha untuk memelihara kesehatan mereka.

 

Ns. Tulus Prasetyo,

Yogyakarta,9 Juni 2016.

Bukan Lansia!.
Tag pada:            

Satu gagasan untuk “Bukan Lansia!.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *