Banjar Rejo adalah sebuah desa di kabupaten Blora provinsi Jawa Tengah. Jika ditinjau dari pembangunan daerah desa ini termasuk desa yang tertinggal. Persediaan air bersih yang belum baik, sarana transportasi yang masih kurang, dan fasilitas umum yang belum mewadai serta pemerataan ekonomi yang masih timpang. Kondisi yang seperti ini membuat Banjar Rejo menarik banyak perhatian dari pemerintahan, intansi pendidikan, dan organisasi masyarakat.

Universitas Gadjah Mada melalui program pengabdian masyarakatnya berpartisipasi dalam pembangunan desa ini. Sebanyak 40 mahasiswa diterjunkan untuk mendukung pembangunan desa ini dalam waktu dua bulan. Dalam bentuk program KKN dan K3M (Kuliah Kerja Kesehatan Masyarakat). Mahasiswa dari beerbagai fakultas dan jurusan belajar, bekerja, dan bermasyarakat dalam suasana pembelajaran masyarakat yang syarat pertukaran nilai dan budaya.

Pembelajaran budaya selama kegiatan di Banjar Rejo terkait kesembuhan yang menarik adalah ketika ada mahasiswa yang sakit. Penyakit yang diderita oleh seseorang menuntut mereka untuk mencari penyembuhan. Dalam bahasa kesehatan sering diistilahkan dengan prilaku mencari kesembuhan. Prilaku mencari kesembuhan dipengarui oleh banyak faktor. Faktor ketersediaan fasilitas kesehatan, pendidikan, ekonomi, budaya dan keyakinan. Dalam kasus ini, ketika seorang mahasiswa sakit dan harus mencari penyembuhan di Banjar Rejo. Kita akan melihat bagaimana interaksi antara seorang “intlektual muda” bertemu dengan budaya kesembuhan di suatu masyarakat.

Kasus pertama, seorang mahasiswa yang mengalami sakit gigi. Sakit gigi yang tidak tertahankan hingga membuat mahasiswa tersebut tidak bisa tidur malam dan merintih merasakan nyeri hebat. Dia sudah mencoba berkonsultasi ke temanya mahasiswa kedokteran gigi. Setelah diberi arahan dan saran minum obat sakit giginya tidak kunjung membaik. Rasa sakit dan bengkak masih terasa, pengaruh analgesik bisa dirasa meredakan nyeri tapi hanya sebentar. Prilaku mencari kesembuhanya mendorong untuk minta saran ke tokoh masyarakat Banjar Rejo, kiranya apa yang harus dilakukan?. Pak lurah, meyarankan untuk pergi ke mbah yayi untuk disuwuk agar sakit giginya segera membaik. Tanpa pikir panjang, mahasiswa tersebut dengan diantar temanya pergi ke mbah yayi atas rekomendasi pak lurah. Akhirnya beberapa saat kemudian, dai mendapatkan rasa sakit berkurang dan progresnya membaik.

Kasus kedua, seorang mahasiswa dikabarkan mengalami kesurupan ketika berjalan – jalan di pinggiran desa. Mahasiswa tersebut tiba – tiba tidak sadar,kemudian mengeluarkan kata kata yang tidak jelas runtutnya dan isinya. Kemudian dibawa ke “mbah kaji” (red: tokoh agama di Banjar Rejo) untuk disuwuk. Mbah Kaji mendoakan mahasiswa tersebut selang beberapa waktu dia tersadar dan tidak tahu apa yang terjadi. Kesembuhanpun dia dapatkan kembali. Sembuh dalam arti bisa kembali sadar tentang diri dan peran dirinya.

“Suwuk”, menurut tokoh masyarakat di desa Banjar Rejo adalah istilah proses peyembuhan yang dijalankan oleh seorang yang diyakini memilki ilmu dan keahlian dalam penyembuhan. Metode penyembuhanya bermacam macam, salah satunya dengan dibacakan doa dan diberikan air putih yang telah didoakan. Masyarakat Banjar Rejo yakin bahwa “suwuk” memliki pengaruh positif dalam kesembuhan seseorang. Keyakinan akan hal ini mengakar di masyarakat. Meski sebagian kalangan meragukanya, bagi mereka yang berpegang teguh pada nilai budaya tetap percaya diri menggunakan proses penyembuhan ini.

Dalam artikel ini, kami tidak menyimpulkan boleh tidaknya suwuk untuk penyembuhan. Karena boleh tidaknya suatu tindakan penyembuhan perlu tinjaun yang mendalam dari berbagai sudut pandang, terlebih dari sudat pandnag syar’i. Dan sebaiknya tidak terjebak pada kacamata ilmiah saja, karena betapa banyak hal yang ilmiah tapi metode ilmiah yang dibuat manusia belum bisa menjelaskan keilmiahan sesuatu fenomena. Meski ilmiah dalam proses penyembuhan itu penting, dan harus tetap diusahakan dengan kesadaran bahwa ada ruang ruang kesembuhan yang belum bisa diungkap dengan metode ilmiah.

Kedua kasus di atas membuak wawasan kami tentang kesembuahan dalam budaya dan semakin menguatkan kami bahwa kebudayaan, nilai dan keyakinan sangat berpengaruh terhadap kesembuhan seseorang dalam suatu masyarakat. Hanya mengikut dengan latah budaya atau metode kesembuhan dari budaya luar yang belum jelas bisa jadi akan membuat kondisi kita lebih parah. Karenanya selektif memilih metode kesembuhan dan penuh kewaspadaan dalam prilaku kesembuhan adalah hal yang perlu dibiasakan.

Budaya Kesembuhan; “Disuwuk”
Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *